Cuci-cuci....Bersih-bersih....!! Yuk Pilih buku mana saja yang kamu suka, dan dapatkan discount special UP TO 40%. Psstt...bisa buat teman ngabuburit juga loh dalam rangka menyambut Ramadhan kali ini.
Bekerjasama dengan Penerbit KOMPAS, mengedepankan buku-buku bertemakan nasionalisme. Mari kita gali lagi pengetahuan tentang INDONESIA!! Supaya kita lebih...CINTA INDONESIA. MERDEKA!
“Kurasa kami membuat Lorong Jeritan menjadi terlalu menakutkan karena di tengah-tengah permainan, Shane meringkuk seperti bola di kolong tempat tidur. Kami berusaha membuatnya merangkak...
Aku bisa pastikan, semua orang yang membaca buku ini pasti akan merasa tersindir, senyum-senyum dan mesem-mesem sendiri, bahkan mungkin akan tertawa ngakak guling-guling sampai berlinang air mata....
Penulis: Roland Gunawan Sitompul, M.Sc.
(penikmat sastra, bermukim di Amerika Serikat)
Sebagai seorang penikmat buku-buku sastra terbitan berbagai negara,saya sangat...
Judul : Kandelar Penulis : Leonowens SP Penerbit: Bisnis2030 Tahun : I, November, 2009 Tebal : 64 halaman Harga : Rp 45.000
Bagi para pencinta buku yang mendewakan dunia sastra, sosok penulis yang bernama Leonowens SP pasti sudah tidak asing lagi. Dia adalah seorang solilokui, sastrawan, juga esais. Penulis asal Jakarta itu, bulan November lalu, telah mendapatkan gelar sebagai “Sastrawan Dunia” di Medan.
Dalam antologi puisinya yang berjudul Kandelar, Leonowens SP banyak menuangkan tema cinta. Love will never die, ungkapan tersebut memang terkesan kuno lama, tetapi ungkapan itu tersurat abadi atau tak lekang oleh waktu.
Tema cinta yang sangat kental terlihat dalam puisinya. Salah satu puisinya yang berjudul “Menggapai Keabadian” penuh dengan nuansa romantis.
Penggalan puisinya berbunyi …”karena kau tengah menggapai keabadian oleh pelbagai syairku” (hal. 11). Dalam puisi tersebut jelas terlihat bahwa cinta menjadi inspirasi kekal dalam pembuatan karya-karyanya.
Kesantunan untuk mewujudkan citra (image) objek puisinya membuat Leonowens SP banyak menggunakan diksi seperti nona, puan, dan putri.
Citra perempuan disuratkan dengan diksi yang indah dan agung. Dari segi ketatabahasaan, diksi yang disebutkan memang terkesan bernilai halus dibandingkan dengan kata wanita yang terkesan kurang sopan. Terlihat penjunjungan atau penghormatan tinggi kepada kaum perempuan. Perempuan adalah sumber inspirasi terindah untuk melahirkan karyanya.
Maskulinitas atau kelaki-lakian tertampak dalam sajaknya yang berwujud “Malaikat”. Leonowens SP mencitrakan dirinya sebagai laki-laki.
Tergambar dalam puisinya berjudul “Sayap”. Petikan puisinya …”Aku sang malaikatmu! Dengan sayap mengarak rindu” (hal. 3). Dalam puisinya tersebut, Leonowens SP hadir dengan mengatakan pengakuannya sebagai seorang laki-laki.
Nafsu dan amarah memang dua hal yang tak pernah bisa musnah dari kehidupan manusia karena manusia adalah makhluk Tuhan yang telah diberkati oleh akal dan nafsu. Leonowens SP seakan mewujudkan ideologinya dalam karyanya. Hal tersebut dapat kita jumpai pada judul puisinya “Sebaik Sunyi” dan “Nafas Api”.
Penggunaan diksi (pemilihan kata) Leonowens SP terlihat begitu apik dalam merepresentasikan ide atau gagasannya dalam sebuah karya. Membaca karya-karya Leonowens SP, terlihat kuat sosok penulis yang piawai dalam melebur metafora.
Diksi yang satu disandingkan dengan diksi lainnya yang selalu berlawanan arah, namun terangkai menjadi sebuah makna yang filosofis.
Kuatnya pencitraan dan lambang yang digunakan sepaham dengan pendapat Saini KM (Isnaeni), yaitu “mempergunakan citra (image) dan lambang adalah jalan menemukan arti dan makna (konotatif) dari kata-kata. Pemilihan kata (diksi) yang tepat membangkitkan dan memahami pikiran dan ideologi penulis dalam setiap karyanya”.
Puisi-puisi Leonowens SP merupakan puisi romantik yang sarat akan makna filosofis. Setiap puisi yang ditampilkannya merupakan media perwujudan ideologinya sendiri. Keestetikaan yang ditampilkannya menyiratkan bahwa inspirasi yang sederhana akan terlihat kuat bila direpresentasikan dengan imaji-imaji yang berupa nalar.
Antologi puisi Kandelar ini tidak hanya menyuguhkan tentang kekayaan nilai estetis sebuah puisi, tetapi juga menghadirkan keindahan filosofis penyair dalam memahami makna sastra yang sesungguhnya.***
***Penulis adalah pengajar, bermukim di Sumedang. Alumnus Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Lahir di Tasikmalaya, Desember 1984