Prajurit Bayangan Perang Adu Pintar
    
nda mau lebih banyak tahu tentang dunia intelijen Indonesia? Buku-buku tentang CIA, M16, Mossad, atau KGB sudah banyak, termasuk versi bahasa Indonesia, tapi ironisnya orang Indonesia justru banyak yang tak tahu menahu tentang kegiatan intel di negeri sendiri. Belakangan yang sering disebut-sebut adalah BIN (Badan Intelijen Negara) yang dikaitkan dengan beberapa kasus.
Ingat kasus Gerakan 30 September/PKI? Aceh? Munir? Atau kerusuhan Poso dan Ambon? Atau aksi teroris yang membuat tahun-tahun terakhir ini Indonesia menjadi tidak aman dan selalu ada pemeriksaan di tempat-tempat tertentu? Bagaimana kaitannya dengan cara kerja BIN? Sejarah mungkin nanti bisa banyak bercerita bagaimana BIN mampu mengatasi atau mengungkap itu semua.
Yang pasti, Badan Intelijen Indonesia, telah ada jauh sebelum perang melawan teroris. Di buku ini, untuk pertama kalinya, kisah lengkap tentang BIN dan badan-badan pendahulunya dikronikkan secara mendalam dan objektif. Dan, tentu ini menjadi sejarah kontemporer Indonesia akan lebih berpendar dengan nuansa dan pragmatis. Kita dibuat tahu tentang cara kerja Badan Rahasia Negara Indonesia (Brani), Biro Informasi Staf Angkatan Perang (BISAP), Badan Koordinasi Intelijen (BKI), Kopkamtib, Komando Intelijen Negara (KIN), Satsus Intel, Bakin, BIN, serta keterkaitannya dengan CIA (Badan Intelijen Amerika).
Selama ini rezim Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto telah bersusah payah mencitrakan dirinya secara diplomatik sebagai negara netral dalam Perang Dingin. Tapi nyatanya, dinas intelijennya luar biasa agresif dalam menangani diplomat komunis di bumi Indonesia.
BIN telah berada di garis depan dalam perang melawan terorisme di Indonesia, bahkan sebelum September 2001. Walaupun beberapa hal dari kegiatan penyelusupan itu telah bocor ke media massa, tapi buku ini mengungkapkan secara detil dibanding yang ada sebelumnya.
Menurut penulis buku ini, menatap ke depan, BIN tidak bisa lain kecuali mempertahankan peran pentingnya dalam meredam timbunan tantangan yang dihadapi Indonesia. Cabang-cabangnya di kawasan ini akan senantiasa mengamati denyutan ketegangan yang terjadi di daerah-daerah, khususnya di wilayah bermasalah seperti di Aceh dan Papua. Agen-agennya akan mengumpulkan informasi tentang penyelundupan narkoba dan pemalsu uang. Kemudian banyak pejabat-pejabatnya akan terus memainkan peran utama dalam melawan teroris, baik dalam maupun luar negeri, yang terus merancang serangan-serangan di seluruh pelosok kepulauan. Sebagai narasumber, ada disebut nama Hendropriyono tetapi lebih banyak nama mereka dilindungi demi lembaga BIN itu sendiri.
Penelusuran Intelijen
Pada bab 15, Ken Conboy, sang penulis, memberi judul "Faruq", yang menceritakan tentang lika-liku pengikut jihad Umar Faruq. Di situ diungkapkan penelusuran intelijen siapa itu tokoh bernama Faruq, pria kelahiran Kuwait, dari orang tua asal Irak pada tahun 1971. Perubahan diri Faruq menjadi pengikut jihad terjadi begitu saja, sesudah mengikuti kotbah berapi-api dari ualam militan Kuwait Abu Zeid tak lama sebelum Perang Teluk 1991, tanpa diduga ia bersetuju dengan mengikuti sang ulama ke Peshawar, pakistan, dengan menggunakan paspor palsu, dan dari sana ke Ibu kota Afghanistan, Kabul.
Dalam dua tahun berikutnya, selain berada di tempat pelatihan al-Qaeda di Khaldan, Afghanistan, sesaat ia juga pernah bersama pejuang mujahidin di Tajikistan tanpa ada kejadian yang berarti. Ia dekat dengan rekan senior bin Laden bernama Abu Zubaydah. Ia belajar cara menggunakan tinta rahasia dan menulis sandi.
Faruq kemudian diberangkatkan ke Filipina dengan perintah untuk mendaftar ke sebuah sekolah penerbangan. Tujuan akhir mereka adalah agar cukup cakap menguasai pesawat terbang penumpang dalam suatu misi bunuh diri. Tujuan al-Qaeda yang kemudian berhasil dengan mematikan tahun 2001.
Ketika di Filipina, sebagian besar waktu Faruq dihabiskan dengan orang Indonesia, bukan dengan orang-orang Filipina. Akhirnya, ia pun tertarik dengan Indonesia antara lain karena alasan, adanya kekacauan di berbagai negeri setelah Orde Baru tumbang bulan Mei 1998, yang kemudian menjadi lahan subur untuk para ekstremes. Lalu, ia juga punya hubungan dekat dengan berbagai tokoh Indonesia ketika berlatih di Afghanistan (Abu Jandal). Ia kemudian melamar gadis Makassar, putri militan asal Bogor, dan merencanakan pembunuhan terhadap Megawati Sukarnoputri. Serta banyak rencana busuk lainnya. Akhirnya BIN mencium gerakan teroris ini yang didekati melalui paspor. Dan seterusnya.
Banyak pengungkapan lainnya yang dituliskan. Menarik tentu. Dengan membaca ini, kita akan memahami dan menghormati jerih payah agen-agen intel Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan negeri ini. Zulkifli Lubis, bapak intelijen Indonesia mengatakan mereka adalah prajurit bayangan yang bertempur dalam perang adu pintar. [Stella Hanasa, mahasiswi Institut Kesenian Jakarta] Oleh: Suara Sumber Pembaharuan
Sumber: http://www.suarapembaruan.com/News/2007/05/27/Buku/buku01.htm |