James Bond Indonesia -- "Intel; Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia"
    
DUNIA intelijen dalam film seolah aksi yang tiada henti sepanjang alur cerita. Salah satu film yang menampilkan sosok intel adalah serial ”James Bond” yang memiliki kode rahasia 007. Sementara di dunia nyata, sepak terjang intel bisa saja ada kemiripan dengan lakon film, bisa juga ada sisi-sisi lain yang berbeda. Perjalanan sejarah dunia intelijen di Indonesia yang juga kutipan sejumlah operasi yang pernah dilakukan lembaga intelijen di tanah air, setidaknya dapat diketahui dari buku karya Ken Conboy yang berjudul ”Intel; Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia”. Buku karya konsultan keamanan di Jakarta ini membukakan mata bahwa ketika ada satu kepentingan yang sama, Amerika Serikat tidak tanggung-tanggung memberikan bantuan dana, peralatan militer, hingga pelatihan bidang spionase. Namun ketika kepentingan itu hilang, negara yang semula didukung bisa berbalik 180 derajat menjadi seteru. Terkadang, pihak-pihak yang melakukan pemberontakan terhadap suatu negara mendapat pelatihan pula dari as (hal. 15, dan penjelasan hal. 19). Hal itu mengingatkan pada kasus Iran-Contra pada tahun 1980-an, ketika negara adikuasa ”bermain-main” secara diam-diam dengan pihak yang menjadi lawan suatu pemerintahan/negara. Kasus Iran-Contra berupa penjualan senjata secara ilegal kepada negara Iran. Nah, uang yang diperoleh dari penjualan senjata itu digunakan untuk mendanai kelompok pemberontak Contra di negara Nikaragua. Saat perang dingin, musuh besar negara adidaya AS dan sekutunya adalah paham komunis. Tak heran jika AS memberikan berbagai perhatian lebih terhadap maraknya gerakan komunis di kawasan Asia, termasuk ketika berperang di Vietnam. Indonesia yang juga menghadapi persoalan dengan komunis melalui PKI, menjadi ”sahabat dekat” AS pada kurun waktu tersebut. Sejumlah personel dikirim mengikuti pelatihan intelijen di Pulau Saipan, yaitu pulau yang berada di kawasan Pasifik dan di bawah wilayah AS. Akan tetapi, AS juga bermain mata dengan melatih sejumlah pemberontak di Sumatra dan Sulawesi di Pulau Saipan. Akibat digunakan CIA untuk pelatihan, Pulau Saipan tertutup dari dunia luar antara tahun 1953-1962. Dalam menghadapi komunis, intel Indonesia mendapat pelatihan khusus menangkap mata-mata (spy catcher) dan juga memata-matai mata-mata asing. Yang menjadi sasaran biasanya para diplomat atau staf kedutaan dari negara-negara yang berhaluan komunis, semacam Uni Soviet, Korea Utara, dan Vietnam. Terkadang ada hal yang menggelikan saat melakukan penyadapan, semisal alat sadap harus segera diambil karena ternyata dipasang pada mebel yang akan diganti. Atau, ada juga yang tersadap justru pembicaraan dan hubungan intim target dengan pelacur. Ada juga keisengan petugas intel yang mengerjai seorang warga asing saat berada di Bali. Ternyata keisengan petugas intel juga dilakukan intel Jepang yang mengacak-acak bawaan target tersebut selama dua jam, sehingga target dibuat kapok atau jera untuk datang kembali ke Jepang. SEIRING dengan memudarnya komunisme dan runtuhnya sejumlah negara komunis, perhatian AS mulai surut dan beralih ke isu lain. Kondisi itu turut mengakhiri bulan madu aparat intelijen Indonesia dengan mentornya pada tahun 1997. Bahkan, pada era pemerintahan B.J. Habibie, Pimpinan Bakin (Badan Koordinasi Intelijen Negara) saat itu, Z.A. Maulani mengganti seluruh peralatan bantuan AS dengan peralatan dari Inggris.
Tak heran jika isu yang diusung bukan lagi membendung komunis,melainkan demokratisasi dan HAM. Itu pula yang terjadi jika dulu militer Indonesia dengan mudah memiliki peralatan dari AS dan sekutunya, kini peralatan militer itu mulai tak berguna menyusul embargo sukucadang dan beberapa pesawat yang sedang dirawat tidak bisa diambil kembali. Dengan isu perang melawan terorisme, kini mitra AS beralih dari militer kepada jajaran kepolisian. Jika kelak isu terorisme sudah tak terpakai, akankah bulan madu AS dengan kepolisian berakhir pula? Yang agak mengganggu dari buku ini adalah terjemahan yang kadang agak kaku, sehingga perlu sedikit waktu untuk ”mengunyahnya”. Akan tetapi, setidaknya bisa diketahui latar belakang sejumlah peristiwa semacam Malapetaka 15 Januari (Malari) 1974 yang ditengarai berlatar belakang persaingan (rivalitas) antara Kepala Kopkamtib Letjen Ali Murtopo dan Waka Kopkamtib Jenderal Soemitro. Selain itu, disinggung pula mengenai peristiwa G30S/PKI dengan kehebohan dokumen Gilchrist, penjualan peta rahasia militer kepada agen Soviet pada tahun 1982, dan pembajakan pesawat Garuda Woyla tahun 1981. Ada pula lintasan sejarah keberadaan Bakin (kini BIN/Badan Intelijen Negara), termasuk kisah masing-masing Kepala Bakin, BIN. Namun, setidaknya buku ini membuka apa yang pernah dilakukan aparat intelijen Indonesia, termasuk sisi-sisi lain yang terkadang menggelikan saat melakukan pengintaian terhadap agen intelijen asing. Ringkasan lain tentang James Bond Indonesia -- "Intel; Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesi. Oleh : McDeeck
Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/1699920-james-bond-indonesia-intel-men guak |