Cuci-cuci....Bersih-bersih....!! Yuk Pilih buku mana saja yang kamu suka, dan dapatkan discount special UP TO 40%. Psstt...bisa buat teman ngabuburit juga loh dalam rangka menyambut Ramadhan kali ini.
Bekerjasama dengan Penerbit KOMPAS, mengedepankan buku-buku bertemakan nasionalisme. Mari kita gali lagi pengetahuan tentang INDONESIA!! Supaya kita lebih...CINTA INDONESIA. MERDEKA!
“Kurasa kami membuat Lorong Jeritan menjadi terlalu menakutkan karena di tengah-tengah permainan, Shane meringkuk seperti bola di kolong tempat tidur. Kami berusaha membuatnya merangkak...
Aku bisa pastikan, semua orang yang membaca buku ini pasti akan merasa tersindir, senyum-senyum dan mesem-mesem sendiri, bahkan mungkin akan tertawa ngakak guling-guling sampai berlinang air mata....
Penulis: Roland Gunawan Sitompul, M.Sc.
(penikmat sastra, bermukim di Amerika Serikat)
Sebagai seorang penikmat buku-buku sastra terbitan berbagai negara,saya sangat...
Suara-Suara Hawa, adalah kelanjutan dari buku "Padang 7,6 Skala Richter," “Suara-Suara Nurani dan Kalbu,” dan “Suara-Suara Adam”yang telah terbit sebelumnya.Masihtetappada tujuan utama untuk mendonasikan buku-buku ini pada kemanusiaan, buku ini diterbitkan, utamanya untuk pemulihan musibah bencana gempa di Padang tahun 2009 yang lalu.
Solidaritas dari sastrawan berbagai Negara, antara lain: Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam, untukdisumbangkan padakemanusiaan ini ditujukan bagi setiap insan yang mengalami penderitaan akibat bencana dan tragedikemanusiaan.
Semoga keberadaan buku-buku untuk kemanusiaan ini, bisa memberi manfaat kepada yang membutuhkan.
Koordinator proyek buku ini adalah Bapak Leonowens SP.
Luka Perempuan Tua Dari Linggarjati dalam Suara-Suara Hawa
Tentu tidak mudah memahami puisi, apalagi buat orang yang terlambat memulainya seperti saya namun karena janji kepada seorang teman dan semangat berbagi jua saya akan mencoba menuliskan ulasan ini. Semoga baiknya bisa diambil manfaat dan kekurangannya kita perbaiki bersama menuju kesempurnaan yang diharapkan.
Puisi adalah bangunan yang disusun dari Puzle-puzle pengalaman yang membentuk sebuah ruang tersendiri namun bisa dimasuki oleh siapa saja yang ingin merenung dan sekedar mereguk anggur-anggur sepi di altar yang disajikan sedemikian rupa oleh penyair, entah yang kita dapat setelah memasukinya sebuah lembaran hikmah atau sebuah aksi garuk-garuk kepala beserta sedikit gelengan halus itu hanya sebagian reaksi disamping manggut-manggut setuju.
Dari pengalaman pribadi siaku liris yang berdasarkan fakta empiris tadi tentu puisi bisa kita ibaratkan menjadi sebuah pohon lengkap, ada batang, daun dan mungkin juga ada buahnya, namun perbedaan puisi dengan pohon yang lain (baca:novel dan cerpen) terletak pada keartistikannya dan bentuk batangnya yang telah menjadi sebuah bongsai yang tentu saja kita tahu sangat indah tanpa mengurangi unsure-unsur pohon yang selayaknya ada.
Menelusuri dan menikmati puisi-puisi yang disajikan oleh Okky Sastrawiguna dalam sebuah antologi “Suara-Suara Hawa” saya serasa memasuki suatu ruangan yang terbangun dari rintihan seorang perempuan dan rintihan tersebut terkadang berubah menjadi erangan dan di lain sisi juga dia berubah menjadi jeritan. Coba kita renungkan penggalan sajak “Buat Sam” berikut ini:
“… padamkan mata kita, padamkanlah agar pertemuan ini mempunyai tangan-tangan kerinduan untuk meraba wajah kehidupan agar ia mempunyai langkah kaki yang tak tergesa menapaki kenyataan…”
Lihat bagaimana siaku liris dalam penggalan sajak tersebut sangat hati-hati menggambarkan ketakutannya akan sebuah perpisahan setelah mengalami pertemuan yang membuatnya ektase. Puisi ini juga membuat kita merasakan ketakutan penyair menyusuri kehidupan kalau perlu butakan saja matanya begitu kira-kira si penyair berteriak agar pertemuan yang terjadi bisa menghasilkan satu kekuatan untuk menjalani kehidupan ke depan.
Di puisi selanjutnya bagaimana penyair dengan gamblang menuliskan bagaimana takutnya dalam menghadapi rasa cinta yang sangat besar dalam dirinya, sehingga dalam kemabukan cinta itu biarlah dia sendiri merasakan tanpa perlu mengharapkan sambutan cinta dari objek yang dia cintai. Lihat potongan gambaran dari penyair:
“…usahlah berbalik aku tak ingin hangus oleh cinta dan siksa”
Jelas tergambar ketakutan yang dialami oleh siaku liris akan cinta yang dia punya jika mendapat sambutan dari objek yang dicintainya. Dalam bait-bait yang diberi judul “Seseorang” oleh penyair ini saya mencium semacam kemabukan akan cinta dan di sini ada seperti kemabukan Rabiah Al Adawiyah terhadap sang maha cinta mungkin begitu kiranya kemabukan cinta yang dialami oleh siaku liris dalam puisi ini namun entah pada apa dan siapa?.
Begitu juga kalau kita menyusuri bait-bait puisi yang lain yang di tulis oleh penyair kita akan menemukan sebuah bangunan yang sebentar membuat kita tertegun, sebentar lagi membuat kita garuk-garuk kepala dan mungkin sebagian membuat kita meringis. Dari semua bangunan yang disajikan sedemikian rupa dan di tiap sudut bangunan itu kita akan mendapati semacam pengalaman baru yang akan saying jika dilewatkan.
Demikian kiranya catatan sederhana dari saya ini semoga kita dapat menikmati suara-suara hawa.