SISI KESEMPURNAAN PUISI CINTA LEONOWENS SP
    
Peresensi : Dessy NR “Pecandu Metafor Dosa”, mungkin itulah sosok penulis yang bernama Leonowens SP. Ia seperti kecanduan melumat kata dosa menjadi sebuah lirik yang anggun. Yang juga masih termuat pada buku puisinya yang telah terbit sebelumnya (KANDELAR). Dalam antologi puisi GENEVIEVE ini, Leonowens SP bersolilokui (berbicara sendiri) dengan menyuguhkan metafor “dosa” kepada Sang Nona (perempuan). Seperti pada puisinya yang berjudul “Tatkala Dosa” (hal 11), puisi tersebut berisikan tentang kepasrahan seorang penulis yang tak dapat menyempurnakan keanggunan seorang perempuan. Cinta sejati selalu memberikan yang terbaik pada untuk sang pujaan hatinya. Namun ia menyadari bahwa hal itu tak mungkin dapat ia wujudkan. Dengan kata lain bahwa jikalau diwujudkan akan menampakkan sebuah dosa yang tak dapat diampuni oleh Tuhan. GENEVIEVE merupakan buku kumpulan puisi sekuel kedua dari pena maha dahsyat Leonowens SP. Antologi puisi ini banyak mengisahkan tentang kisah cinta yang harus berakhir karena suatu ketidak berdayaan seorang anak manusia untuk menyempurnakan cintanya. Atau singkatnya tentang cinta yang berpasrah oleh tuntutan kehidupan dunia yang harus sempurna. Seperti terlihat pada penggalan puisinya yang berbunyi, …”aku menantikanmu agar jalang, karena jaman berharap akan kesempurnaan dunia!” (hal 21). Penggalan puisi tersebut menyiratkan bahwa Leonowens SP masih menantikan sang cinta itu datang. Cinta jua yang menjadikan ia seorang pendosa kehidupan dunia. Karena kehidupan dunia diperlihatkan sedemikian rupa untuk sempurna (seperti harta, tahta dan wanita). Dari mata turun ke hati, ungkapan tersebut memang benar adanya. Tuhan telah menganugrahkan manusia dengan semua kesempurnaannya. Tak ada yang salah dengan anugerah Tuhan. Terkadang sepasang mata selalu disalah gunakan oleh manusia. Hanya saja manusia (laki-laki) yang terkadang tak kuat menahan godaan dunia (perempuan). Perempuan kelak menjadi pencoba iman seorang anak manusia (laki-laki). Leonowens SP bersolilokui pada petikan puisinya yang berbunyi …”Semoga kau mewujud sang pencoba imanku… (hal 7). Metafor daun juga menghiasi puisi-puisi Leonowens SP. Seperti yang kita ketahui bahwa daun dapat melindungi manusia dari teriknya sinar matahari dan juga menyangga air hujan yang jatuh. Daun mudah rapuh, tidak seperti tangkai yang kuat dan dapat menyangga daun. Seperti pada kedua penggalan puisinya yang berbunyi, …”Para dedaun itu adalah penyangga air matamu yang jatuh, agar memanggilku kembali berpulang saat rindu tercela (hal 1) dan …”Ya, cinta ini hanyalah sepenggal impian untuk setiap dedaunan!” (hal 27). Kedua penggalan puisi tersebut memang sama-sama menggunakan metafor dosa namun berbeda makna. Pada penggalan puisi yang pertama metafor daun tersebut dapat dimaknakan bahwa daun (kerinduan) sebagai pelindung air mata sang pujaan hati agar sang pencinta (Leonowens SP) kembali datang kala rindu yang nista menjemput. Sedangkan pada penggalan puisinya yang kedua dapat dimaknakan bahwa cinta ini hanyalah sebuah harapan bagi insan yang lemah atau rapuh. Nuansa malam kelak menghadirkan romansa dalam sebuah percintaan. Romansa itu tak lekang membuat jejak yang tertinggal dalam sebuah percintaan. Cinta yang hadir bisa pupus namun jejak yang tertanam tak kan pernah pupus dimakan waktu. Seperti dalam penggalan puisi Leonowens Sp yang berbunyi, …”Jalan, temaram, debu kota, dan manusia-manusia malam; kian merindu untuk jejak cinta yang tertinggal…”(hal 15) dan …”Semoga kau menjadi jejak di riwayat malamku…”(hal 17). Cinta memang penuh dengan liku-liku kisah. Hitam, putih, indah, perih dan lain sebagainya. Perih dalam bercinta terasa menyakitkan tetapi sisi keperihan cinta merangkai keanggunan cinta itu sendiri. Menyempurna cinta dalam makna yang sebenarnya. Seperti pada penggalan puisi Leonowens SP yang berbunyi, …”Ya, aku akan mencintaimu dari sisi keperihan sempurna…”(Hal 25). Buku GENEVIEVE ini tak sekedar menampilkan tentang sisi kesempurnaan cinta yang sesungguhnya tapi juga menyuguhkan romansa percintaan yang dikemas dengan diksi yang unik. Karena Leonowens SP sangat apik dalam memilih diksi untuk karya-karyanya. Selain itu, antologi puisi ini menyuguhkan makna filosofi tentang arti kehidupan sesungguhnya karena Leonowens SP sangat lihai dalam memutarbalikkan diksi menjadi satu rangkaian filosofi. Lirik dalam antologi puisi ini terasa renyah dan empuk sehingga makna dari puisi ini dapat dinikmati oleh setiap pembaca. ***Penulis adalah pengajar, bermukim di Sumedang. Alumnus Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia (IKIP), Bandung. |