Dimuat di harian Media Indonesia (versi cetak), Sabtu 15 Mei 2010.
Puisi untuk Padang
Buku Himpunan puisi ini merupakan satu dari enam buku yang ditulis untuk pemulihan pasca gempa di Provinsi Sumatera Barat, terutama di Padang.
Annida-Online, Penerbit Bisnis2030 kembali meluncurkan buku terbitannya, sebuah antologi puisi berjudul Kepada Pesanggarahan Hati. Buku kumpulan puisi ini ditulis oleh tiga penulis dari tiga daerah berbeda; Elly Marliah (Bandung), Euis Meilani Sabda (Jakarta), dan Nunung Susanti (Cirebon).
Liputan6.com, Jakarta: Kartini. Tidak pernah disangka, nama itu senantiasa dipuja-puji sebagai pencetus pola pikir modern kaum hawa. Bahkan, jauh hingga puluhan tahun setelah kelahirannya. Ya, Kartini yang tengah dibayangkan dalam tulisan ini adalah Raden Ajeng Kartini, “..putri sejati, putri Indonesia, harum namanya…”
Anda gemar memasak? Gemar bikin masakan yang direbus hingga sayur menjadi sangat empuk? Mungkin anda perlu berpikir ulang, karena menurut buku ini, pada prinsipnya manusia untuk...
Peresensi : Dessy NR
“Pecandu Metafor Dosa”, mungkin itulah sosok penulis yang bernama Leonowens SP. Ia seperti kecanduan melumat kata dosa menjadi sebuah lirik...
Judul : Kandelar Penulis : Leonowens SP Penerbit: Bisnis2030 Tahun : I, November, 2009 Tebal : 64 halaman Harga : Rp 45.000
Bagi para pencinta buku yang mendewakan dunia sastra, sosok penulis yang bernama Leonowens SP pasti sudah tidak asing lagi. Dia adalah seorang solilokui, sastrawan, juga esais. Penulis asal Jakarta itu, bulan November lalu, telah mendapatkan gelar sebagai “Sastrawan Dunia” di Medan.
Dalam antologi puisinya yang berjudul Kandelar, Leonowens SP banyak menuangkan tema cinta. Love will never die, ungkapan tersebut memang terkesan kuno lama, tetapi ungkapan itu tersurat abadi atau tak lekang oleh waktu.
Tema cinta yang sangat kental terlihat dalam puisinya. Salah satu puisinya yang berjudul “Menggapai Keabadian” penuh dengan nuansa romantis.
Penggalan puisinya berbunyi …”karena kau tengah menggapai keabadian oleh pelbagai syairku” (hal. 11). Dalam puisi tersebut jelas terlihat bahwa cinta menjadi inspirasi kekal dalam pembuatan karya-karyanya.
Kesantunan untuk mewujudkan citra (image) objek puisinya membuat Leonowens SP banyak menggunakan diksi seperti nona, puan, dan putri.
Citra perempuan disuratkan dengan diksi yang indah dan agung. Dari segi ketatabahasaan, diksi yang disebutkan memang terkesan bernilai halus dibandingkan dengan kata wanita yang terkesan kurang sopan. Terlihat penjunjungan atau penghormatan tinggi kepada kaum perempuan. Perempuan adalah sumber inspirasi terindah untuk melahirkan karyanya.
Maskulinitas atau kelaki-lakian tertampak dalam sajaknya yang berwujud “Malaikat”. Leonowens SP mencitrakan dirinya sebagai laki-laki.
Tergambar dalam puisinya berjudul “Sayap”. Petikan puisinya …”Aku sang malaikatmu! Dengan sayap mengarak rindu” (hal. 3). Dalam puisinya tersebut, Leonowens SP hadir dengan mengatakan pengakuannya sebagai seorang laki-laki.
Nafsu dan amarah memang dua hal yang tak pernah bisa musnah dari kehidupan manusia karena manusia adalah makhluk Tuhan yang telah diberkati oleh akal dan nafsu. Leonowens SP seakan mewujudkan ideologinya dalam karyanya. Hal tersebut dapat kita jumpai pada judul puisinya “Sebaik Sunyi” dan “Nafas Api”.
Penggunaan diksi (pemilihan kata) Leonowens SP terlihat begitu apik dalam merepresentasikan ide atau gagasannya dalam sebuah karya. Membaca karya-karya Leonowens SP, terlihat kuat sosok penulis yang piawai dalam melebur metafora.
Diksi yang satu disandingkan dengan diksi lainnya yang selalu berlawanan arah, namun terangkai menjadi sebuah makna yang filosofis.
Kuatnya pencitraan dan lambang yang digunakan sepaham dengan pendapat Saini KM (Isnaeni), yaitu “mempergunakan citra (image) dan lambang adalah jalan menemukan arti dan makna (konotatif) dari kata-kata. Pemilihan kata (diksi) yang tepat membangkitkan dan memahami pikiran dan ideologi penulis dalam setiap karyanya”.
Puisi-puisi Leonowens SP merupakan puisi romantik yang sarat akan makna filosofis. Setiap puisi yang ditampilkannya merupakan media perwujudan ideologinya sendiri. Keestetikaan yang ditampilkannya menyiratkan bahwa inspirasi yang sederhana akan terlihat kuat bila direpresentasikan dengan imaji-imaji yang berupa nalar.
Antologi puisi Kandelar ini tidak hanya menyuguhkan tentang kekayaan nilai estetis sebuah puisi, tetapi juga menghadirkan keindahan filosofis penyair dalam memahami makna sastra yang sesungguhnya.***
***Penulis adalah pengajar, bermukim di Sumedang. Alumnus Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Lahir di Tasikmalaya, Desember 1984