Dimuat di harian Media Indonesia (versi cetak), Sabtu 15 Mei 2010.
Puisi untuk Padang
Buku Himpunan puisi ini merupakan satu dari enam buku yang ditulis untuk pemulihan pasca gempa di Provinsi Sumatera Barat, terutama di Padang.
Annida-Online, Penerbit Bisnis2030 kembali meluncurkan buku terbitannya, sebuah antologi puisi berjudul Kepada Pesanggarahan Hati. Buku kumpulan puisi ini ditulis oleh tiga penulis dari tiga daerah berbeda; Elly Marliah (Bandung), Euis Meilani Sabda (Jakarta), dan Nunung Susanti (Cirebon).
Liputan6.com, Jakarta: Kartini. Tidak pernah disangka, nama itu senantiasa dipuja-puji sebagai pencetus pola pikir modern kaum hawa. Bahkan, jauh hingga puluhan tahun setelah kelahirannya. Ya, Kartini yang tengah dibayangkan dalam tulisan ini adalah Raden Ajeng Kartini, “..putri sejati, putri Indonesia, harum namanya…”
Anda gemar memasak? Gemar bikin masakan yang direbus hingga sayur menjadi sangat empuk? Mungkin anda perlu berpikir ulang, karena menurut buku ini, pada prinsipnya manusia untuk...
Peresensi : Dessy NR
“Pecandu Metafor Dosa”, mungkin itulah sosok penulis yang bernama Leonowens SP. Ia seperti kecanduan melumat kata dosa menjadi sebuah lirik...
Anita, seorang wanita 35 tahun, hidup di dua dunia secara bersamaan; dunia nyata dan dunia mimpi. Di salah satu dunianya, ia adalah seorang ibu dari dua anak yang mendiami sebuah kota kecil, Magelang. Di dunianya yang lain, ia menjadi seorang wanita karier di Jakarta dan menjalin hubungan dengan pria bernama Michael.
Awalnya, sangatlah menyenangkan hidup di kedua dunia itu secara bersamaan, karena apa yang tidak didapatkannya dari dunia yang satu, bisa didapatkannya dari dunia yang lain. Namun, seiring berjalannya waktu, Anita tak lagi bisa membedakan mana dunia nyata dan mana yang hanya mimpi. Apakah karier dan kehidupan percintaannya dengan lelaki pujaannya di Jakarta hanya khayalan? Atau, keluarganya di Magelang adalah mimpi semata?
Anita akhirnya sadar bahwa ia dihadapkan pada sebuah kesempatan kedua; sebuah kesempatan lain untuk mengakhiri masa lalu yang belum berakhir. Tapi, tetap saja ia tak bisa membohongi hatinya yang hancur berantakan saat menyadari kenyataan itu. Ia tak bisa berpura-pura seakan berbagai macam peristiwa yang berlangsung tidak benar-benar terjadi. Anita hanya bisa berharap andai saja dirinya dapat tidur lebih lama lagi...
Menurut saya, pribadi, novel ini sangat layak dibaca. Selain karena cukup menarik jalan ceritanya, juga karena ada banyak pembelajaran tentang hidup yang bisa kita dapat dari novel ini. Novel ini tidak hanya membahas hal-hal yang berkaitan tentang mimpi saja, tapi juga membahas tentang kematian, cinta, kebahagiaan, dan bayak lagi. Oleh sebab itu saya amat merekomendasikan novel ini untuk dibaca.
walaupun tentu saja kata-kata yang dilantunkan si penulis masih tergolong kaku, semestinya pihak penerbitnya dapat membetulkan kekakuan penulisan-penulisannya. Namun, cacat yang ada di novel ini dapat tergantikan oleh rasa penasaran yang saya rasakan ketika membaca novel ini. Bahkan baru di dua bab terakhir saya baru bisa mengetahui dunia mana yang nyata menurut si tokoh.
saya beri empat bintang karena saya amat menyukai ide cerita yang brilian ini. Tapi tidak saya berikan bintang penuh karena penuturan kata-katanya masih kurang cakap.
resensi Oleh: welvina poulika - 09 January 2010
SETELAH ditinggal pergi Reza, mendiang suaminya untuk selama-lamanya (akibat serangan kanker), Anita hijrah dari Jakarta untuk tinggal di kota Magelang. Meski setelah itu ia menjadi single parent dan mengajar di SD Santo Markus, ternyata hal itu tidak menghalangi Anita untuk mencurahkan kasih sayang pada kedua anaknya, Ami dan Sarah. Apalagi, ia tinggal tidak jauh dari Nency (ibunya) yang kadang bisa datang untuk menjenguk. Tentu, kehidupan pasca kepergian Reza itu, bisa dikatakan tidak kurang dari satu apa pun. Tapi kehidupan di Magelang itu seperti terenggut pusaran waktu dalam satu dunia yang mirip mimpi. Karena di sisi lain, Anita memiliki dunia yang harus dijalani; dunia di Jakarta, di mana ia jadi seorang wanita karier sebagai pegawai bank (Fisrt Merchants Bank) dan sedang menjalin hubungan akrab dengan Michael, atasan Anita.
Dua kehidupan yang harus dijalani Anita (di dua kota) itu membuat Anita seperti terombang-ambing dalam ketidakpastian. Sayang, Anita tak bisa membedakan mana yang mimpi dan yang nyata (real). Maka Anita merasa mengidap gangguan otak dan memutuskan menemui psikiater. Tapi, baik di Jakarta maupun di Magelang, sekali pun kedua dokter yang menangani Anita sudah berjuang keras memulihkan ingatan Anita, tetap saja ia tak bisa membedakan dua dunia tersebut.
Hingga akhinya Anita sakit. Meski hanya sakit panas, Michael tidak tega melihat ia hidup sendiri di rumahnya tanpa ada yang merawat. Michael merawat Anita bahkan rela tak pulang ke rumah sebelum Anita sembuh. Tapi kejadian yang tak terduga terjadi. Tatkala menemani Anita itu, Michael menemukan kotak di bawah kolong ranjang Anita.
Setelah membuka kotak itu dan membaca buku harian Anita (yang ada di kotak tersebut), Michael tahu Anita ternyata mengalami stres pascatrauma akibat kebakaran yang menimpa rumahnya di Magelang setahun yang lalu. Dalam kebakaran itu, kedua anaknya (Ami dan Sarah) serta ibunya (Nency) meninggal. Michael minta Anita untuk menghadapi kenyatan, hidup di Jakarta dan tidak perlu dihantui penyesalan. Rupanya, “buku harian” itu menyadarkan Anita. Ia bisa memiliki ingatan lagi!
Novel karya Joannes Rhino, si pendatang baru dalam “jagat sastra” ini, memang menjulangkan ide brilian. Pengarang mengangkat “dunia” Anita yang mengidap stres pascatrauma dengan jurus bertutur yang bisa membuat pembaca tersesap pusaran halusinasi dan kenyataan. Lebih jeli, Joannes membuka tabir kesadaran Anita setahap demi setahap sehingga pembaca seperti digiring penasaran. Tak pelak jika pembaca, seperti tidak bisa berhenti hingga halaman akhir.
Sayang, capaian estetis Joannes dalam merangkai kata masih tergolong gagap. Sebagai pendatang baru, Joannes kurang kuat menggambaran setting dan latar cerita. Juga, dialog yang dibangun terasa datar. Padahal, kalau tiga kompenen itu diterapkan Joannes dengan piawai, tak mustahil novel ini akan jauh lebih memikat.
Tetapi, tak ada gading yang tak retak. Apalagi, kekurangan Joannes itu ternyata bisa ditutupi kejelian memilih tema. Sebab kekuatan ide novel ini bisa menutupi kekurangan tersebut, lantaran pembaca serasa digiring mensesap dunia mimpi yang ganjil dan tidak masuk akal. Maka, tidak rugi Anda membaca buku ini. Mata Anda akan terbuka melihat kehidupan Anita –halusinasi seorang wanita single parent-- yang ditinggal pergi oleh ibu dan kedua anaknya tercinta