Sepuluh penyair yang kebetulan perempuan yang biasa menulis di jejaring sosial Facebook, Sabtu 20 Februari 2010 lalu meluncurkan buku antologi puisi mereka yang berjudul “Merah Yang Meremah” bertempat di Pusat Dokumentasi HB Jassin, TIM Jakarta.
JAKARTA, KOMPAS.com - Para sastrawan dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam yang tergabung dalam Group Pembuatan Buku-buku untuk Kemanusiaan, berhasil menerbitkan enam buku untuk disumbangkan bagi kemanusian. Penerbitan buku-buku tersebut diilhami dari bencana alam gempa yang melanda Sumatera Barat, 30 September 2009.
Oleh : Muhammad Dullah Rivani
(Pemerhati Sastra dan Agama, bermukim di Doha, Qatar)
Puisi-puisi karya Leonowens SP, merupakan karya yang dibuat dengan kepekaan tinggi terhadap...
Membaca novel-novel Dan Brown bersiaplah untuk bergadang. Itulah selalu yang selalu saya alami. The Lost Symbol menjadi pengalaman ketiga setelah The Da...
Seminar Atlantis;The Lost Continent Finally Found akan segera digelar. Bagi
Anda yang tertarik untuk hadir dapat memperoleh undangan seminar Atlantis;The
Lost Continent Finally Found karya...
Smesh Lompat (Jumping Smash) adalah salah satu ciri bulutangkis modern abad ke-21. Teknik ini diperkenalkan oleh pemain bulutangkis Indonesia Liem Swie King sehingga juga kondang dengan nama King Smash. Apabila King telah melompat dan melepaskan smash, boleh dikata lawan bakal pontang-panting mengembalikan shuttlecock. King sudah turun tahta, namun reputasinya sebagai raja bulutangkis dasawarsa 1970 dan 1980-an tak lekang disapu zaman.
Buku ini memaparkan proses King naik tahta bulutangkis dunia, sampai akhirnya "lengser keprabon". Di sini dipaparkan ketekunan, kegigihan, sampai desakan emosi yang selama ini samar-samar diketahui publik.
Kini King telah meninggalkan panggung bulutangkis. Namun bukan berarti pergi begitu saja. Dari lapangan bulutangkis, Kini berjuang di medan sosial. Ia kini aktif memperjuangkan runtuhnya sekat diskriminasi di Indonesia bersama para mantan jawara bulutangkis dunia dari Indonesia.
"Prestasi-prestasi optimal olahraga, khususnya bulutangkis oleh para juara All England, Olimpiade, serta panggung kejuaraan-kejuaraan lainnya itu pun dinilai sebagai ikut mempercepat berlangsungnya proses asimilasi dan integrasi serta surutnya diskriminasi." - Jacob Oetama, Pemimpin Umum Harian Kompas
"King memiliki mental juara. Walau misalnya dia kalah, dia tidak putus asa dan selalu berusaha bangkit untuk menang. Mental juara seperti ini perlu dicontoh oleh generasi muda Indonesia." - Rudy Hartono, juara All England delapan kali.
"Harapan saya adalah atlet-atlet muda Indonesia bisa meniru Liem Swie King. Jangan segala sesuatunya dihitung dengan uang. Tetapi, kedepankan unsur nasionalisme dan kebanggaan kepada negara dan bangsa." - G. Sulistiyanto, wakil ketua umum Komunitas Bulutangkis Indonesia dan Ketua Umum Eka Tjipta Foundation
"King sudah memberi apa yang dimilikinya." - Hendry Ch Bangun, wakil pemimpin redaksi Warta Kota
Tepat benar panggilan itu. Kecuali singkatan nama Liem Swie King, “King” juga berarti raja, raja bulu tangkis, melanjutkan gelar Ferry Soneville, Tan Joe Hok, Rudy Hartono. Warisannya dilanjutkan lewat Alan Budikusuma, Haryanto Arbi sampai kini “takhta” itu diduduki Taufik Hidayat.
Di antara kita masih banyak yang ingat, betapa kejuaraan Ferry Sonneville,Tan Joe Hok, Rudy Hartono disambut publik Indonesia sebagai peristiwa “bersejarah”, yakni kejadian yang bermakna dan berpengaruh besar pada masyarakat Indonesia. Kepercayaan dan kebanggaan “kita bisa”. Warga Indonesia, bangsa Indonesia sanggup mencapai prestasi besar.
Akan tetapi, janganlah diabaikan pelajaran yang melekat pada prestasi dunia di bidang bulu tangkis itu. Yakni syaratnya, syarat prestasi besar, syarat kejuaraan internasional. Yakni kemauan, kepercayaan diri, latihan serta usaha dan kerja keras secara konsisten. Bakat diperlukan. Tetapi, bakat juga harus dikembangkan dengan disertai cucuran keringat dan kecerdasan untuk memekarkan bakat semaksimalnya. Prestasi besar berupa kejuaraan dunia juga membangkitkan rasa setia kawan dan kebanggaan bersama sebagai bangsa. Kenyataan ini terekpresikan dalam ungkapan peran olahraga untuk nation building.
Pada mulanya, olahraga adalah ekspresi dari pembawaan manusia sebagai “mahluk yang bermain” disebut juga homo ludens. Hal ini tampak dari kenyataan sejak anak-anak suka berolahraga yang lebih dipersepsikan sebagai bermain. Unsur permainan melekat, juka ketika olahraga tumbuh sebagai permainan yang berdimensi pertandingan dan persaingan. Ketika kecuali aturan main, cara main, semangat main juga disertai prestasi yang berjenjang sampai kejuaraan.
Unsur bermain tampil dan tampak nyata oleh fakta, bahwa setiap olahraga mengenal pertandingan adu prestasi, dan laga itu merupakan panggung tontonan yang menarik ribuan bahkan jutaan penonton, penggemar yang menikmatinya. Tidaklah lengkap jika pertandingan olahraga tidak disertai penuhnya panggung penonton.
Pertandingan dan prestasi olehraga berperan dalam proses pembangunan bangsa, setia kawan bangsa, solidaritas bangsa, semangat kebersamaan dan persatuan. Peran itu masuk dalam kerangka nation building. Menanjak dan tercapainya prestasi olahraga bulu tangkis di Indonesia berkoinsidensi dengan bangkitnya kemauan dan semangat membangun bangsa alias nation building dalam tahun limapuluhan.
Kebangkitan itu mencakup pula proses asimilasi yakni membaurnya warga Indonesia keturunan Tionghoa sebagai warga bangsa yang penuh, bertanggung jawab, bebas deskriminasi dan bergairah bekerja sama untuk kemajuan dan kesejahteraan seluruh bangsa Indonesia.
Menurut kenyataannya, prestasi-prestasi optimal olehraga khususnya bulu tangkis oleh para juara All England, Olimpiade, serta panggung kejuaraan-kejuaraan lainnya itupun dinilai sebagai ikut mempercepat berlangsungnya proses asimilasi dan integrasi serta surutnya deskriminasi.
Aktual dan relevan kiranya, mengharapkan dari biografi Panggil Aku King ini, kehendak kita bersama membangun kemajuan dan kesejahteraan bangsa, bertambah kuat,cerdas dan serentak.
Jakarta, 14 Mei 2009 Jakob Oetama Pemimpin Umum Harian Kompas