SinopsisHidup bagaikan berjalan di gurun pasir dalam kegelapan. Bila ingin mengetahhui yang sebelumnya lewat apakah sapi atau manusia, kita melihat jejak-jejak kaki yang tersisa. Di gurun pasir, ada jejak-jejak kaki lengkap dengan maknanya. Demikian juga dengan hidup, ia menyisakan jejak-jejak makna. Sayangnya, jejak-jejak makna ini hanya bisa dilihat, dibaca, dan dimaknai oleh mereka yang telah membuka jendela kepekaan.Bila jendela kepekaan telah terbuka, jengankan kelebihan, kekurangan yang paling memalukan sekalipun bisa meninggalkan jejak-jejak makna yang berguna.
Jangankan lahir cantik dan menarik, lahir jelek sekalipun bisa menyingkirkan jejak-jejak makna yang amat berarti. Jangankan sukses, gagal pun bisa membentuk pola-pola jejak makna yang berharga.Indahnya, ketika jejak-jejak makna ini terlihat, terbaca, dan diikuti dengan tekun , ada sejumlah pintu kehidupan terbuka. Salah satunya adalah pintu kebahagiaan! Seperti Ibu yang lama ditinggalkan putri kesayangannnya, rumah kebahagiaan membukakan pintu, melemparkan senyuman, mengundang dekapan dan pelukan: "Ibu rindu kamu, selamat datang di rumah!"