Dimuat di harian Media Indonesia (versi cetak), Sabtu 15 Mei 2010.
Puisi untuk Padang
Buku Himpunan puisi ini merupakan satu dari enam buku yang ditulis untuk pemulihan pasca gempa di Provinsi Sumatera Barat, terutama di Padang.
Annida-Online, Penerbit Bisnis2030 kembali meluncurkan buku terbitannya, sebuah antologi puisi berjudul Kepada Pesanggarahan Hati. Buku kumpulan puisi ini ditulis oleh tiga penulis dari tiga daerah berbeda; Elly Marliah (Bandung), Euis Meilani Sabda (Jakarta), dan Nunung Susanti (Cirebon).
Liputan6.com, Jakarta: Kartini. Tidak pernah disangka, nama itu senantiasa dipuja-puji sebagai pencetus pola pikir modern kaum hawa. Bahkan, jauh hingga puluhan tahun setelah kelahirannya. Ya, Kartini yang tengah dibayangkan dalam tulisan ini adalah Raden Ajeng Kartini, “..putri sejati, putri Indonesia, harum namanya…”
Anda gemar memasak? Gemar bikin masakan yang direbus hingga sayur menjadi sangat empuk? Mungkin anda perlu berpikir ulang, karena menurut buku ini, pada prinsipnya manusia untuk...
Peresensi : Dessy NR
“Pecandu Metafor Dosa”, mungkin itulah sosok penulis yang bernama Leonowens SP. Ia seperti kecanduan melumat kata dosa menjadi sebuah lirik...
Terraluka merupakan seri kumpulan puisi absurdis dari salah satu karya-karya terbaik Leonowens SP.
Simak Puisi seri Terraluka yang terdapat dalam buku kumpulan Puisi TERRALUKA II:
Terraluka (I)
Tiada pratanda resah, bagi petikan sunyi sang cahaya dian nan mengendap itu. Menumpu kasih tercelaku yang bersembunyi di antara setiap pratanda. Untai waktu, tiada bertemu mengebiri jarak. Kau himpun syairku dalam anyam purnama: “terraluka,” petaka kisah di bawah sang cahaya dian menerang hati...
Terraluka (II)
Oh, cahaya dian yang menguliti persemayaman silau! Atau hati benderang, menyatukan bait-bait buram pada sekujur lentera prahara, dan melengkaranya menuju: “terraluka.” Kau membangkit mahakala... Semenjak bertubuh dalam syair-syair mantraku!
Akhirnya, ada doa bagi embun di pucuk dedaun yang memanggul: cahaya rembulan, dan mohon angin pada rebah hamparan ngarai. Doa di atas ampunan, setulus mengurai embunmu menjadi pelipur di raga fajar.
Embun. Ada kesejukan yang melanda ketika kata ini diungkapkan. Adalah pagi yang menyapa saat dia hadir. Di pucuk-pucuk daun, yang menetes dengan pelan serta diselingi sinar mentari yang mulai merekah. Sangat indah, puisi yang dibuat oleh Leonowens SP yang terdapat di buku Terraluka II ini. Bagaimanapun, pagi adalah sebuah harapan baru. Bagi semua insan yang ada di muka bumi.
Puisi-puisi dengan makna yang absurdis, telah lahir dari goresan pena yang begitu dahsyat. Membawa kita ke alam imajinasi dan pemikiran yang dalam atas suatu peristiwa. Leonowens SP, memang dikenal dengan puisi yang mengguncang nalar pemikiran dan tak jarang membuat kita harus berpikir sejenak untuk memahaminya. Namun begitu, jika membacanya perlahan-lahan, kita akan dapat menangkap makna apa yang tersembunyi dibalik diksi dan pilihan-pilihan katanya.
Seperti halnya doa, yang merupakan pengharapan, embun pun demikian adanya. Menyatukan doa dan embun, bahkan doa bagi embun adalah sebuah ungkapan absurd pengharapan untuk sebuah harapan. Ada harapan di atas harapan. Tiap-tiap manusia, memiliki harapan-harapan tertentu dalam hidupnya. Bagi orang yang baik tentu yang menjadi harapannya adalah harapan akan kehidupan yang lebih baik. Bagi orang jahat, barangkali yang menjadi harapannya adalah kehancuran orang lain.
Kita kadang tidak menyadari, ketika kita sedang bermasalah dengan orang lain, terkadang ada harapan buruk yang terselip di sana. Alam bawah sadar kita seakan mendorong untuk orang tersebut mendapat balasan dari apa yang telah dia perbuat. Terkadang hal itu membuat kita berlaku selayaknya orang jahat. Meskipun sebenarnya tidak demikian adanya.
Tentu saja, jika kita memiliki pemikiran yang jernih, kita akan dengan cepat menyadari, pikiran-pikiran jahat yang terlintas. Harapan, doa, embun. Sebuah rangkaian indah dengan bulir-bulir dari keringat dan kerja keras untuk mewujudkan banyak harapan. Tanpa kerja keras, mustahil rasanya kita bisa dengan mudah mewujudkan segala impian dan harapan.
Doa bagi Embun, dipanjatkan ketika malam datang sebelum beranjak kita dalam peraduan. Yang akan membawa kita ke alam mimpi, mimpi indah yang jika ingin terwujud, kita harus segera bangun dan bekerja keras untuk mewujudkannya. Sungguh indah, merayapi puisi demi puisi dari karya sastrawan kaliber ini. Begitu banyak hal yang diungkap yang menunjukkan betapa luas wawasan yang dimilikinya. Yang membuat kita akan berdecak kagum akan keindahan dari rangkaian kata demi kata yang ada di dalamnya.
Kini, Anda sendiri bisa merasakan, salah satu puisi karya Leonowens SP yang begitu menyentuh dan penuh arti. Tak habis kata rasanya untuk bisa mengungkapkan beragam tema dan peristiwa yang ada dalam buku Terraluka II ini. Karena segala hal bisa menjadi begitu menarik meskipun sebenarnya topik yang ditawarkan ada yang sederhana, namun berkat tangan dinginnya sanggup menyajikan sebuah karya yang sangat layak untuk diapresiasi dan digali apa makna-makna yang tersembunyi di dalamnya.
Takkan terlupakan membaca karya-karya puisi yang begitu indah ini, karena pengalaman kepenulisan seolah memberi gambaran tentang sesuatu yang ditinjau dari sudut pandang seorang yang berwawasan dan memiliki kepekaan yang tinggi akan pentingnya estetika.***