Dimuat di harian Media Indonesia (versi cetak), Sabtu 15 Mei 2010.
Puisi untuk Padang
Buku Himpunan puisi ini merupakan satu dari enam buku yang ditulis untuk pemulihan pasca gempa di Provinsi Sumatera Barat, terutama di Padang.
Annida-Online, Penerbit Bisnis2030 kembali meluncurkan buku terbitannya, sebuah antologi puisi berjudul Kepada Pesanggarahan Hati. Buku kumpulan puisi ini ditulis oleh tiga penulis dari tiga daerah berbeda; Elly Marliah (Bandung), Euis Meilani Sabda (Jakarta), dan Nunung Susanti (Cirebon).
Liputan6.com, Jakarta: Kartini. Tidak pernah disangka, nama itu senantiasa dipuja-puji sebagai pencetus pola pikir modern kaum hawa. Bahkan, jauh hingga puluhan tahun setelah kelahirannya. Ya, Kartini yang tengah dibayangkan dalam tulisan ini adalah Raden Ajeng Kartini, “..putri sejati, putri Indonesia, harum namanya…”
Anda gemar memasak? Gemar bikin masakan yang direbus hingga sayur menjadi sangat empuk? Mungkin anda perlu berpikir ulang, karena menurut buku ini, pada prinsipnya manusia untuk...
Peresensi : Dessy NR
“Pecandu Metafor Dosa”, mungkin itulah sosok penulis yang bernama Leonowens SP. Ia seperti kecanduan melumat kata dosa menjadi sebuah lirik...
Kemajuan dan kesuksesan perusahaan sangat tergantung pada performa para pekerjanya. Performa yang tinggi hanya dapat diraih jika tingkat komitmen dan loyalitas para karyawan tinggi. Untuk mencapai tataran tinggi itu, kualitas kepemimpinan dan supervisi pekerja di Indonesia harus lebih ditingkatkan lagi, dengan kata lain para pemimpin harus punya kiat baru dalam kepemimpinannya. Kiat baru itu adalah prinsip empati yang ditulis secara gamblang dalam The Power Of Emphaty In Leadership: Mengoptimalkan Performa Karyawan Dengan Prinsip Empati.Berempati tidak sama dengan bersimpati. Berempati tidak berarti Anda sepakat, melainkan Anda secara mendalam mencoba memahami orang itu, baik dari segi emosional maupun intelektual. Anda mencamkan nada suara dan bahasa tubuh orang tersebut, tidak hanya kata-katanya. Dalam empati, Anda mendengar dengan hati, mata, dan pikiran secara objektif, menggunakan semua pancaindra sekaligus. Contohnya: ”Masa semua orang menunggu jawaban dari saya,” keluh Bos. Padahal sumber problem adalah dirinya sendiri, yang kurang berempati. Manusia cenderung menyalahkan orang lain, dan tak pernah menyalahkan diri sendiri. Orang senang dengan perubahan, tetapi dirinya sendiri tidak mau berubah. Para pemimpin seperti itu harus mengembangkan kepemimpinannya dengan kiat jitu berinteraksi agar mampu dan terbiasa menerapkan prinsip empati secara konsisten demi peningkatan performa pekerja (karyawan) yang akhirnya bermuara pada kualitas produk dan profitabilitas perusahaan.
Kenapa buku ini menarik untuk disimak?
Buku mengenai kiat empati dalam manajemen atau kepemimpinan masih sangat jarang.
Ditulis berdasarkan pengalaman Penulis selama 30 tahun dalam meniti karier di banyak perusahaan.
Penulis bergerak dalam bidang konsultasi dan seminar dalam wadah OborCipta.