Sabtu, 27 Februari 2010 | 22:48 WIB
Sepuluh penyair yang kebetulan perempuan yang biasa menulis di jejaring sosial Facebook, Sabtu 20 Februari 2010 lalu meluncurkan buku antologi puisi mereka yang berjudul “Merah Yang Meremah” bertempat di Pusat Dokumentasi HB Jassin, TIM Jakarta.
Buku yang dikurator dan diberi kata pengantar oleh penyair Kurniawan Junaedhie dan diterbitkan oleh Bisnis2030 itu menghimpun sekitar 100 puisi, karya 10 penyair yang selama ini dimuat di Facebook. Mereka adalah Dewi Maharani, Faradina, Nona Muchtar, Kwek Li Na, Pratiwi Setyaningrum, Shinta Miranda, Susy Ayu, Tina K, Helga Worotitjan, dan Weni Suryandari. Mereka umumnya adalah wanita bekerja dan ibu rumahtangga.
Gagasan membukukan puisi-puisi mereka, menurut Kurniawan diawali oleh rasa takjubnya melihat beragam tema yang diangkat oleh para penyair itu. “Sebagai perempuan ternyata mereka tidak tergelincir mengunyah-ngunyah masalah domestik seperti urusan keluarga, rumah tangga dan dapur, tetapi juga mengangkat tema-tema universal seperti kemanusiaan dan ketuhanan. Ini membuktikan bahwa mereka memiliki kepedulian dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Mereka jelas penyair. Apakah mereka akan menjadi penyair besar, tentu waktu yang akan menyeleksinya,” ujar Kurniawan.
Buku antologi puisi “Merah Yang Meremah”, betapa pun, tercatat sebagai buku puisi pertama di Indonesia yang menghimpun karya-karya para penyair di situs jejaring sosial yang banyak jumlahnya. Berbeda dengan semangat pendahulunya yang banyak menulis di media online, ke-10 penyair Facebook ini justru ingin mengembangkan dirinya di dunia sastra mainstream. Terbukti, karya-karya dari beberapa penyair itu, kini sudah banyak dipublikasikan di media massa nasional.
Penyair Iwan Soekrie yang membahas buku itu secara lebih mendalam mengomentari bahwa sastra Facebook sebagai ‘sastra kutu’. “Meski menulis di Facebook, kehadiran mereka harus diperhitungkan. Seperti kutu, mereka telah membuat kita gatal dan harus garuk-garuk kepala,” katanya.
Menulis puisi di dunia maya sendiri bukan hal baru. Sejak tahun 1998, sudah banyak penyair Indonesia memajang karyanya di dunia maya. Kelompok sastra yang terkenal adalah Cybersastra yang dikomandani oleh penyair Medy Loekito. Namun, sejak dua tahun terakhir muncul fenomena baru: penyair yang memajang karyanya di Facebook. Facebook, adalah situs jejaring social yang mempunyai karakteristik yang berbeda dengan situs web lain. Di Facebok, para penyair selain bisa memajang karyanya, juga bisa dengan cepat mendapat komentar atau tanggapan dari pembaca. Sehingga terjadi interaksi yang cepat dan instant. “Bukan tidak mungkin, dalam 5-10 tahun mendatang akan muncul generasi baru penyair Facebook yang memiliki karakterisasi tersendiri,” ujar Kurniawan.***(Ist) Sumber: http://oase.kompas.com/read/2010/02/27/22483791/Diluncurkan:.Merah.yang.Meremah |